Welcome to My Blog

Selamat datang di blog saya. Temukan apa yang anda minati.
Selamat berpetualang di blog saya.

Sabtu, 24 Maret 2012

JALANI HIDUP DENGAN OPTIMIS

"Singsingkan lengan baju dan bekerja keraslah mencapai apa yang Anda inginkan, sebab kehormatan itu tidak pernah bisa dicapai hanya dengan bermalas-malasan".

Tidak ada satu pun alasan bagi kita untuk bersikap pesimis di dunia ini. Tuhan menganugerahkan begitu banyak nikmat, kelebihan, rahmat, dan rejeki bagi kita sesuai dengan apa yang telah kita kerjakan. Dengan segala kenikmatan itu, kita mempunyai potensi yang besar untuk mewujudkan apa yang kita inginkan.

Lihatlah di sekeliling kita. Betapa banyak orang yang mempunyai kekurangan dalam berbagai hal, tetapi dengan kesungguhan, mereka mampu mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Mereka mempunyai mimpi dan kemudian bekerja keras untuk mewujudkannya.

Pesimise timbul jika kita tidak mampu mengelola kamampuan kita, dan menyalahkan segala sesuatu jika impian itu tidak tercapai, atau lingkungan kita itdak sesuai dengan apa yang diinginkan. Padahal, inti dari semua itu ada dalam diri kita sendiri. Orang-orang yang pesimis melihat segala sesuatu sebagai sebuah hambatan yang menjadi beban bagi kesuksesan yang mereka tuju. Padahal, belum tentu hambatan-habatan tersebut nyata, terkadang hanya ada di pikirang mereka saja.

Karenanya, optimisme mesti ada dalam diri kita agar apa yang akan kita lakukan membawa jalan kesuksesan. Tanpa optimisme, sulit bagi kita untuk mengarungi berbagai kehidupan dengan tantangan yang semakin sulit.

Untuk membangun sikap optimis, kita perlu memahami bahwa semua yang ada dalam diri kita ada manfa'atnya. Pemahaman itu akan membawa kita pada proses melakukan analisis mengenai kekuatan apa yang kita miliki dan begaimana menggunakan kekuatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman akan kekuatan yang kita miliki menjadikan kita percaya diri untuk mulai melakukan sesuatu.

Setiap orang diciptakan dengan kekutan dan kelemahan masing-masing. Memahami kekuatan dan kelemahan yang dimiliki akan menjadikan kita lebih mengenal mana yang bisa kita lakukan dan mana yang tidak bisa kita lakukan. Hal itu juga menjadikan kita mengetahui secara lebih pasti di bidang apa saja kita bisa bekerja lebih ungguk dibandingkan yang lain.

Selanjutnya, perlu ada keyakinan dalam diri kita bahwa jika orang lain bisa melakukan, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Mereka makan nasi, begitu juga kita. Akan terpatri dalam diri kita bahwa kita mampu melakukan sesuatu dengan baik kalau ada orang yang mampu melakukannya.

Setiap orang pada dasarnya mempunyai kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah ada orang yang berani mengambil kesempatan yang dimilikinya karena percaya dengan kemampuannya, sementara orang lain tidak berani mengambil kesempatan yang ada karena tidak mempunyai kepercayaan diri bahwa ia mampu melakukan hal tersebut.

Jangan pernah merendahkan kemampuan kita sendiri. Salah satu kecenderungan negatif yang sering dilakukan seseorang adalah apa yang disebut sebagai "underestimate" (meremehkan, merendahkan) kekuatan yang dimilikinya. Akhirnya, hal itu menimbulkan rasa rendah diri yang tidak perlu pada saat melakukan sesuatu.

Contoh yang sering terjadi adalah bahwa pada saat kita ingin melakukan sesuatu, di awal kita sudah terlebih dahulu takut dan tidak berani melakukan karena banyak hal:"merasa belum cukup umur, tidak berbakat, tidak berpengalaman, takut tidak bisa, atau takut mengecewakan", dan berbagai ketakutan lain yang sifatnya merendahkan diri sendiri.

Pikiran semacam itu menjadi belenggu bagi diri sendiri untuk melihat dan memanfaatkan peluang yang tersedia. Kemauan dan kemampuan yang sudah ada pada diri sendiri terhambat oleh pemikiran sempit yang celakanya ditimbulkan oleh diri sendiri. Belenggu pemikiran semacam ini harus terlebih dahulu disingkap, dihilangkan jauh-jauh dari pikiran kita, sehingga potensi dan kesempatan yang terbuka di depan kita bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Jangan pernah menyerah, karena akan selalu ada harapan. Hidup ini akan selalu menghadapi berbagai persoalan yang terkadang datang silih berganti, hingga suatu saat, mungkin kita merasa berada pada satu titik dimana kita tidak bisa lagi mengahadapi beban persoalan tersebut. Terkadang, di saat kritis tersebut, kita menghadapi dilema besar. Sebuah pertanyaan muncul dihadapan kita:"bisakah kita bertahan? Haruskah kita menyerah?"

Dalam kondisi semacam ini, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah "melawan" semua kemungkinan kita untuk menyerah. Tanamkan dalam diri kita bahwa kita akan melakukan usaha sampai batas akhir dimana kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa.

Biasanya, orang yang dalam keadaan terdesak akan mampu mengeluarkan potensi dan kekuatannya jauh lebih dahsyat dibandingkan saat ia dalam keadaan normal. Artinya, sebenarnya jika hal itu ia lakukan dalam keadaan sadar, ia juga bisa melakukan hal yang sama, menarik kekuatan dirinya sampai batas yang paling memungkinkan.

Orang yang dikejar anjing, misalnya, terkadang bisa melakukan hal-hal yang luar biasanya, yang sebelumnya tidak terpikirkan. Dengan reflek, ia bisa lari sekencang-kencangnya, atau melewati pagar yang tinggi, meloncati parit, berenang di sungai, atau melakukan berbagai hal lain yang bisa jadi sebelumnya belum pernah ia lakukan.

 Orang yang terjebak dalam sebuah kebakaran besar di rumahnya, misalnya, saat ia terkurung api, ia bisa melakukan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Bisa jadi ia bisa menerobos kaca, membuat teralis besi, dan menerobos lingkaran api untuk bisa menyelamatkan diri atau orang yang dicintainya. Ketika ada dorongan dalam dirinya yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu, saat itulah ia bisa berkonsentrasi dan mengumpulkan potensi yang ada dalam dirinya untuk melakukan berbagai hal yang terkadang tidak mungkin dilakukan sebelumnya.

Jika kita mendapatkan suatu prestasi, sekecil apa pun prestasi itu, syukuri dan nikmatilah. Prestasi semacam itu akan memberikan gambaran bahwa kita pun bisa melakukan sesuatu jika kita berusaha dengan keras. Gambaran semacam itu akan memberikan kekuatan untuk melakukan kerja dan karya yang lebih besar lagi. Begitu seterusnya sehingga semakin lama prestasi yang kita dapatkan semakin besar dari sisi kualitas dan kuantitas.

Jika perlu, berilah reward untuk diri sendiri atas prestasi yang telah didapatkan. Rayakan prestasi tersebut; belikan hadiah terbaik untuk diri sendiri, atau berikan istirahat dan relaksasi bagi tubuh Anda, karena telah mau diajak bekerja keras mendapatkan prestasi tersebut. Dengan demikian, Anda merasakan betapa penting diri Anda sendiri bagi orang-orang di sekitar Anda, dan Anda mampu menyumbangkan sesuatu bagi mereka.

Harus disadari pula bahwa kepercayaan diri yang tinggi merupakan dua sisi pedang yang saling terkait. Di satu sisi, kepercayaan diri yang tinggi akan sangat membantu seseorang dalam mengembangkan diri dan belajar dari lingkungannya secara cepat, tetapi di sisi lain harus dijaga agar kepercayaan diri yang tinggi ini tidak mengarah kepada sebuah kesombongan.

Jika kepercayaan diri mampu mendorong terciptanya proses pengembangan diri secara lebih baik, hal itu menjadi nilai positif yang harus dikembangkan. Tetapi, sebaliknya, perlu kehati-hatian agar kepercayaan diri yang tinggi itu tidak mengarahkan seseorang kepada kesombongan sehingga tidak mau lagi memperbaiki diri jika ada kekurangan atau kesalahan.

Kamis, 08 Maret 2012

SKRIPSI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD


PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII PADA POKOK BAHASAN BILANGAN BULAT DI MADRASAH TSANAWIYAH NURUL HUDA PAKANDANGAN BLUTO SUMENEP

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan (S1) Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Nusantara PGRI Kediri


LOGO IKIP.jpg


Oleh :
RIFKI ALFI LAILI
NPM : 03.1.03.01.0129

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI
2007



ABSTRAKSI

Rifki Alfi Laili, Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VII pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Pakandangan Sumenep.

Kata Kunci : Prestasi Belajar dan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
Salah satu model pembelajaran yang dapat menumbuhkan kreativitas siswa sekaligus melatih siswa untuk dapat menerima keberagaman individu adalah model pembelajaran kooperatif. Pada model pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan 5 sampai 6 orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan laporan Slavin (1986) (Ibrahim dkk, 2000:16) menelaah penelitian dan melaporkan bahwa 45 penelitian telah dilaksanakan antara tahun 1972-1986. Menyelidiki pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil balajar. Studi ini dilakukan pada semua tingkat kelas dan meliputi bidang studi bahasa, geografi, ilmu social, sains, matematika, bahasa inggris sebagai bahasa kedua, membaca dan menulis. Studi yang ditelaah itu dilaksanakan di sekolah-sekolah kota, pinggiran dan pedesaan di Amerika Serikat, Israel, Nigeria, dan Jerman. Dari laporan tersebut, 37 diantaranya menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok control. Delapan studi menunjukkan tidak ada perbedaan, dan tidak satupun studi menunjukkan bahwa memberikan pengaruh negative.
Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Pakandangan Bluto Sumenep yang berjumlah 34 orang. Siswa dibagi dalam 7 kelompok, 6 kelompok terdiri dari 5 orang dan 1 kelompok terdiri dari 4 orang. Perlakuan dilakukan sebanyak 2 kali tatap muka.
Data diperoleh dari hasil pre-test dan post-test yang kemudian diolah ke dalam computer program SPSS PC versi 10.0 dan print-out computer, hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Pakandangan Bluto Sumenep yaitu dengan melihat t test berpasangan sebesar 5,7656 yang lebih besar dari t table 2,0395 dalam taraf kepercayaan 95%. Walaupun penelitian ini hanya dilakukan di kelas VII Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Pakandangan Bluto Sumenep, pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah baik untuk dijadikan suatu percobaan oleh seorang guru khususnya guru matematika untuk meningkatkan prestasi belajar anak didiknya.


DAFTAR ISI
Halaman Judul ...................................................................................................
Halaman Persetujuan ..........................................................................................
Halaman Pengesahan .........................................................................................
Motto dan Persembahan ....................................................................................
Abstrak ...............................................................................................................
Kata Pengantar ...................................................................................................
Daftar Isi ............................................................................................................
Daftar Lampiran .................................................................................................

BAB I      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ............................................................................
B.     Identifikasi Masalah ....................................................................
C.     Batasan Masalah ..........................................................................
D.    Rumusan Masalah ........................................................................
E.     Tujuan Masalah ............................................................................
F.      Kegunaan Penelitian ....................................................................

BAB II    KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS
A.    Kajian Teori .................................................................................
B.     Dasar Pemikiran ...........................................................................
C.     Hipotesis ......................................................................................

BAB III   METODE PENELITIAN
A.    Identifikasi Variabel Penelitian ...................................................
B.     Teknik Penelitian .........................................................................
C.     Rancangan Penelitian ..................................................................
D.    Tempat dan Waktu Penelitian .....................................................
E.     Populasi dan Sampel ....................................................................
F.      Instrument Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data ................
G.    Teknik Analisis Data ...................................................................

BAB IV   LAPORAN HASIL PENELITIAN
A.    Deskripsi Data Variabel ...............................................................
B.     Analisis Data ...............................................................................
C.     Pengujian Hipotesis .....................................................................

BAB V    SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A.    Kesimpulan ..................................................................................
B.     Implikasi ......................................................................................
C.     Saran-saran ..................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran                                                                                                     Halaman
1.      Instrument Penelitian ..................................................................................
2.      Kunci Jawaban dan Penyekoran Instrumen Penelitian ...............................
3.      Scenario Pembelajaran I ..............................................................................
4.      Test Prestasi ................................................................................................
5.      Kunci Jawaban ............................................................................................
6.      Scenario Pembelajaran II ............................................................................
7.      Chi Square test ............................................................................................
8.      Uji F ............................................................................................................
9.      T test ...........................................................................................................
10.  Data nilai Pre-Test dan Post Test ................................................................
11.  Surat Keterangan Melakukan Penelitian .....................................................



KATA PENGANTAR

Maha Suci Allah yang telah memberikan limpahan Rahmat serta kesabaran untuk menyelesaikan skripsi tentang Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VII pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat di MTs. Nurul Huda Kecamatan Bluto. Skripsi ini diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Program S-1 FKIP Universitas Nusantara PGRI Kediri. Harapan peneliti agar skripsi ini bermanfaat tidak hanya bagi mahasiswa fakultas keguruan tetapi juga para guru.

Khusus kepada Drs. Suryo Widodo, M.Pd. dan Drs. H. A. Junaidi Peneliti sampaikan terima kasih yang tak terhingga atas dorongan dan saran beliau agar peneliti menyelesaikan karya ilmiyah ini. Namun demikian masih banyak lagi yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu namun demikian peneliti merasa perlu untuk menyebutkan pihak secara khusus dengan peranannya dalam penyelesaian skripsi ini, antara lain :
1.      Bapak Drs. Ec. Ichsannudin, MM. selaku rector IKIP PGRI Kediri.
2.      Ibu Dra. Sri Panca Setyowati, M.Pd, selaku Dekan FKIP IKIP Kediri.
3.      Bapak Drs. Samijo, selaku Ketua Jurusan Matematika.
4.      Bapak Rusly, M.Pd. selaku Ketua Lembaga STKIP PGRI Sumenep.
5.      Bapak Kepala Sekolah beserta segenap Dewan Guru MTs. Nurul Huda Kecamatan Bluto.
6.      Almarhum Bapakku yang sangat aku saying, saudara-saudaraku yang telah menjadi inspirator bagi penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
7.      Teman-teman seperjuangan (Yana, Ningsih, Sri, Yuli) yang telah banyak menyediakan fasilitas yang penulis butuhkan selama penyusunan skripsi ini.
8.      Serta pihak-pihak lain yang tak dapat penulis sebutkan semuanya yang telah banyak membantu selama penyusunan skripsi.

Penulis tidak dapat memberikan sesuatu yang setimpal atas bantuan dan sumbangsih dari ibu dan saudara, penulis hanya dapat berdo’a semoga segala amal bantuan Bapak Ibu serta Saudara sekalian dibalas oleh Allah SWT.

Perlu peneliti utarakan bahwa kekurangan sempurna tentu masih banyak terdapat dalam skripsi ini, walaupun pengkajian ulang dan revisi telah peneliti lakukan berkali-kali.

Oleh karena itu, kritik dan saran khususnya dari pada pakar dan pemerhati pendidikan amat penulis harapkan demi penyempurnaan skripsi ini pada masa yang akan dating. Terima kasih.


Kediri,   Oktober 2007


Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Berbicara masalah pendidikan berarti menyangkut kehidupan masa depan suatu bangsa karena kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh factor pendidikan, peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, dan demokratis. Oleh karena itu pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan selain aspek-aspek penting lainnya.
Perwujudan masyarakat berkualitas merupakan tanggung jawab pendidikan. Terutama dalam mengantar para peserta didik menuju perubahan-perubahan tingkah laku, baik intelektual, moral maupun social agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk social.
Sebagaimana pendidikan umumnya, kita mengetahui bahwa pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Dimanapun di dunia ini terdapat masyarakat, dan disana pula terdapat pendidikan. Meskipun pendidikan merupakan segala suatu yang umum dalam setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat menyebabkan adanya perbedaan penyelenggaraan termasuk perbedaan system pendidikan tersebut. Penyelenggaraan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan pendidikan yang hendak dicapainya, hal ini dibuktikan dengan penyelenggaraan pendidikan yang kita alami di Indonesia. Tujuan pendidikan yang berlaku pada waktu orde lama berbeda dengan orde baru. Demikian juga sejak orde baru. Ini disebabkan pandangan dan filsafat bangsa dan Negara Indonesia pada waktu orde lama berbeda dengan orde baru. Demikian pula sejak orde baru hingga sekarang, rumusan tujuan pendidikan selalu mengalami perubahan dari pelita-pelita sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan kehidupan masyarakat dan Negara Indonesia.
Dunia pendidikan tidak lepas dari persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi tuntutan zaman yang semakin berkembang khususnya dibidang matematika. Salah satu usaha untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut antara lain adalah untuk mengembangkan metode pembelajaran yang efektif, serta usaha untuk menyusun organisasi pelaksanaan pendidikan yang mantap dan mampu menjawab persoalan yang ada.
Salah satu model pembelajaran yang dapat menumbuhkan kreatifitas siswa sekaligus melatih siswa untuk dapat menerima keberagaman individu adalah model pembelajaran kooperatif. Pada model pembelajaran kooperatif siswa belajar ddalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan 5 sampai 6 orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Oleh karena itu, dalam pembelajaran matematika perlu diajarkan pembelajaran secara kooperatif atau kelompok agar anak didik dapat memanfaatkan perbedaan sehingga menjadi kekuatan untuk saling mengisi. Perlu diingat bahwa, matematika menumbuh kembangkan kemampuan bernalar, yaitu berpikir sistematis, logis dan kritis, dalam mengkomunikasikan gagasan atau dalam pemecahan masalah.

B.     Identifikasi Masalah
Dari uraian di atas, peneliti mempunyai pandangan bahwa konsep pembelajaran kooperatif merupakan salah satu metode untuk meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya di bidang matematika.

C.    Batasan Masalah
Untuk menghindari kesalah pahaman mengenai penelitian ini maka penelitian ini terbatas pada masalah-masalah berikut ini :
1.      Pembelajaran koperatif merupakan suatu strategi belajar siswa pada kelompok-kelompok kecil yang heterogen.
2.      Pembelajran kooperatif dalam penelitian ini adalah Pembelajaran Kooperatif tipe STAD.
3.      Materi yang akan diteliti adalah Sub Pokok Bahasan Bilangan Bulat pada Siswa Kelas VII MTs. Nurul Huda Pakandangan Bluto Sumenep.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan yang akan dijadikan titik tolak penelitian untuk dicati jawabannya dirumuskan sebagai berikut :
Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII MTs. NUrul Huda Pakandangan Tahun Pelajaran 2007-2008.

E.     Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini :
Untuk mengetahui penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat di MTs. Nurul Huda Pakandangan Tahun Pelajaran 2007-2008.

F.     Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.      Bagi Guru
a.       Sebagai bahan pertimbangan dalam peningkatan mutu pendidikan khususnya di bidang matematika.
b.      Sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.
2.      Bagi Peneliti
a.       Sebagai motivasi diri dan meningkatkan berpikir dalam pembelajaran matematika.
b.      Sebagai acuan, wacana dan bekal untuk masa depan.
c.       Sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar S-1.
3.      Bagi Lembaga
Sebagai sumbangan pemikiran kepada lembaga pendidikan khususnya MTs. Nurul Huda untuk meningkatkan prestasi siswa di bidang matematika.

4.      Bagi Pemerhati
Pendidikan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi, serta untuk mendapat umpan balik, sehingga menjadi reverensi kajian (pustaka) untuk meningkatan kualitas pendidikan khususnya pelajaran matematika.
5.      Bagi Pembaca
Agar dapat memajukan putra putrinya untuk meningkatkan minat belajar khususnya mata pelajaran matematika.


BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

Segala usaha perlu mempunyai tujuan tertentu dan ntuk mencapai tujuan tersebut sudah tentu memahami titik tolak atau landasan.
Hal itu penting sekali karena dapat memberikan dasar atau alasan-alasan fundamental dalam mengadakan penelitian dan merupakan pedoman dasar dari hasil penelitian yang akan dibahas selanjutkannya.
Sesuatu dengan permasalahan yang peneliti buat, maka peneliti akan mengkaji variabel dan indicator-indikator penelitian. Adapun variabel kajian teori adalah sebagai berikut :
A.    Belajar
Belajar merupakan suatu usaha agar anak dapat tumbuh dan berkembang. Belajar juga merupakan suatu proses dasar perkembangan anak. Ada beberapa pengertian belajar, yaitu sebagai berikut :
Menurut Muhinbisah (2003:89) semata-mata mengumpulkan atai menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran.
Menurut WJS. Purwerwadarminta (dalam Herlina) dalam kamus bahasa Indonesia (2005:15) belajar adalah berusaha (berlatih) supaya mendapat sesuatu kepandaian.
Menurut pendapat tradisiomal “belajar adalah menambah atau mengumpulkan sejumlah pengetahuan”. Sedangkan menurut pendapat yang lebih modern “Belajar adalah perubahan tingkah laku”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan telah belajar apabila ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dilakukan sebelum ia belajar atau bila tingkah lakunya berubah sehingga lain caranya dalam menghadapi suatu situasi dari pada sebelumnya.
Dalam proses belajar mengajar yang menjadi persoalan utama adalah adanya proses belajar pada siswa yakni perubahan tingkah laku siswa melalui berbagai pengalaman yang diperolehnya.
Lebih lanjut, Syaiful Bahri Djamarah (dalam Herlina, 2005:16) “Belajar adalah proses perubahan prilaku berkat pengalaman dan latihan.
Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan ketrampilan maupun sikap, bahwa meliputi segenap aspek organism atau pribadi.

B.     Matematika
Matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstraksi,atau generalisasi untuk suatu studi ataupun pemecahan masalah. Matematika juga mampu meningkatkan kemampuan untuk berpikir jelas, logis, teratur, dan sistematis.
Galelo (dalam Widodo,2002:1) menyatakan bahwa “Alam semesta ditulis dalam bahasa matematika dalam abjadnya terdiri dari segi tiga lingkaran dan bangun geometri lainnya”. Selanjutnya Soerjadi (1985) mempertegas bahwa “Matematika mempunyai objek abstraksi dan realisasi”. Dewasa ini dipandang sebagai alat piƱata nalar, alat kompetisi dan alat komunikasi.
Untuk memudahkan matematika secara dekat dapat dilihat definisi yang dikemukakan Dajono (dalam Widodo, 2002:2).
Ada tiga pengertian elementer matematika sebagai berikut :
a.       Matematika sebagai ilmu pengetahuan tentang bilangan dan ruang.
b.      Matematika sebagai studi ilmu pengetahuan tentang klasifikasi dan konstruksi berbagai struktur dan pola yang dapat diimajinasikan.
c.       Matematika sebagai kegiatan yang dilakukan oleh para matematikawan.
Soejadi (dalam Widodo, 2002:2) menyatakan bahwa tidak mengherankan kalau ada pihak yang mendefinisikan matematika sebagai ilmu yang mempelajari struktur dan pola. Sedangkan dilain pihak mengatakan bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari bagian abstrak dan lainnya.
Matematika dipandang sebagai suatu struktur yang memerlukan penggunaan symbol untuk hubungan-hubungannya. Symbol-simbol itu sangat penting untuk membantu manipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Simbolisasi menjamin adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk konsep baru. Konsep baru terbentuk karena adanya pamahaman terhadap konsep sebelumnya Hudojo (dalam Wasi’ah, 2006:6).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu deduktif yang mempelajari struktur dan pola yang terorganisasi dan saling berhubungan satu sama lain. Dalam hal ini berarti konsep-konsep matematika tersusun secara hirarkis yaitu konsep baru terbentuk karena ada pemahaman terhadap konsep sebelumnya.

C.    Prestasi Belajar
1.      Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah diciptakan, baik secara individu maupun kelompok. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan kegiatan dalam kenyataan. Untuk mendapatkan prestasi tidak semudah yang dibayangkan, tetapi penuh dengan berbeagai tantangan yang harus dihadapi untuk mencapainya. Hanya dengan keuletan dan optimism dirilah yang dapat membantu untuk mencapainya. Oleh karena itu, wajarlah kalau pencapaian prestasi itu dengan keuletan kerja.
Diketahui bahwa dalam pencapaian prestasi yang penuh dengan rintangan dan tantangan terkadang seseorang tidak pernah menyerah untuk mencapainya meski di dalamnya terdapat saingan yang terkadang kedudukannya lebih baik dan lebih tinggi.
Maka sebagai konsentrasi diharuskan mengoptimalkan kekuatan dalam kegiatan yang dijadikan sarana untuk mendapatkan prestasi tersebut, sehingga pencapaian prestasi itu sesuai dengan harapan.
Kemajuan yang diperoleh individu tidak saja berupa ilmu pengetahuan, tetapi juga berupa kecakapan atau ketrampilan. Semua itu bisa diperoleh dibidang suatu mata pelajaran tertentu. Kemudian untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap mata pelajaran tersebut, maka dilaksanakan evaluasi. Dari evaluasi itulah akan diketahui kemajuan siswa. Evaluasi hasil belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata/symbol. (Muhibbin Syah, M.Ed., 2003:150).
Dengan demikian dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam sagala hal yang dipelajarinya di sekolah yang menyangkut pengetahuan atau kecakapan dan ketrampilan yang dinyatakan sesudah hasil penilaian (evaluasi hasil belajar).
Begitu juga dalam penilaian ini, kaitannya dengan prestasi belajar pada pelajaran matematika dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah peningkatan dan kemajuan siswa dalam pencapaian prestasi belajar di bidang matematika dinyatakan setelah melalui evaluasi hasil belajar.
2.      Prestasi Belajar sebagai Hasil Belajar
Pada pembahasan di atas telah dibicarakan bahwa prestasi belajar adalah hasil penilaian tentang kemajuan siswa setelah melakukan aktivitas belajar, ini berarti prestasi belajar tidak akan bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas aktivitaas belajar siswa.
Fungsi dari prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauh mana kemajuan siswa setelah menyelesaikan aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi siswa agar lebih giat belajar baik secara individual maupun kelompok.

D.    Pembelajaran Kooperatif
Dewasa ini model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang popular, terutama pada bidang matematika, beberapa ahli menyatakan bahwa model ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep matematika (dalam Ibrahim, 2000:5).
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi belajar yang menempatkan siswa pada kelompok-kelompok kecil yang heterogen baik tingkat kemampuan latar belakang social ekonomi maupun suku yang berbeda dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan dan hadiah (Ibrahim, 2003:3). Dalam hal ini setiap anggota kelompok akan bekerja sama dalam menyelesaikan setiap masalah yang diberikan guru dan kerjasama belum berakhir jika salah satu anggota kelompok belum menguasai bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.
Berdasarkan laporan Slavin (1986) (Ibrahim dkk, 2000:16) menelaah penelitian dan melaporkan bahwa 45 penelitian telah dilaksanakan antara tahun 1972-1986. Menyelidiki pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar. Studi ini dilakukan pada semua tingkat kelas dan meliputi bidang studi bahasa, geografi, ilmu social, sains, matematika, bahasa inggris sebagai bahasa kedua, membaca dan menulis. Studi yang ditelaah itu dilaksanakan di sekolah-sekolah kota, pinggiran dan pedesaan di Amerika Serikat, Israel, Nigeria, dan Jerman. Dari laporan tersebut, 37 diantaranya menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok control. Delapan studi menunjukkan tidak ada perbedaan, dan tidak satupun studi menunjukkan bahwa memberikan pengaruh negative.
Dari laporan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada tataran kenyataan pembelajaran kooperatif sangat baik sekali meningkatkan prestasi anak didik, sebab anak didik akan lebih kompetitif, dan salah satu alasan pembelajaran kooperatif adalah bahwa manusia mempunyai perbedaan yang merupakan suatu kekuatanuntuk saling melengkapi.
1.      Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
a.       Saling ketergantungan negative, hal ini dimaksud antar siswa saling membutuhkan sehingga menuntut adanya interaksi promotif yang mungkin siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal.
b.      Interaksi tatap muka, siswa melakukan dialog bukan hanya dengan guru melainkan dengan sesame siswa. Siswa bisa menjadi sumber belajar bagi temannya yang lain sehingga hasil belajar lebih variatif.
c.       Akuntabilitas individual. Penilaian bertujuan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual sehingga diketahui anggota mana yang membutuhkan pertolongan.
d.      Ketrampilan menjalin hubungan antar pribadi. Siswa diarahkan agar mampu bersosialisasi dengan sesamanya sehingga siswa mempunyai sifat rasa hormat, dan perbedaan bukanlah kendala.
2.      Peran Guru dalam Pembelajaran Kooperatif
Guru sangat berperan sekali dalam pembelajaran secara kooperatif diantaranya (Nurhadi dan Senduk, 2003:67)
a.       Merumuskan tujuan pembelajaran
b.      Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar
c.       Menentukan tempat duduk
d.      Merancang bahan/meningkatkan saling ketergantungan positif
e.       Menentukan peran siswa/menunjang saling ketergantungan positif
f.       Menjelaskan tugas akademik
g.      Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerjasama
h.      Menyusun akuntabilitas individual
i.        Menyusun kerjasama kelompok
j.        Menjelaskan prilaku siswa yang diharapkan
k.      Memantau prilaku siswa
l.        Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas
m.    Melakukan intervensi/ mengajarkan ketrampilan bekerjasama
n.      Menutup pelajaran
o.      Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa
p.      Menilai kualitas kerjasama antar anggota kelompok
3.      Metode Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievent Devisions)
Diantara metode pembelajaran secara kooperatif adalah metode STAD. Metode STAD yang dikembangkan ileh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari Universitas Joha Hopkins adalah metode kooperatif yang paling sederhana.
Inti dari STAD (Student Teams Achievent Devisions) ini adalah guru menyampaikan suatu materi, kemudian para siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri dari empat atau lima orang yang heterogen untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru.
Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutoriah kuir, satu sama lain atau melakukan diskusi. Dan setiap minggu atau 2 minggu secara individual diberi kuis dan diberi skor.
Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor siswa yang lalu.
Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain, diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor perkembangan tinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu. Kadang-kadang seluruh tim yang mencapai criteria tertentu dicantumkan dalam lembar itu.
Hal-hal yang berhubungan dengan pembelajaran anatar lain : penyusunan rencana pembelajaran, pembuatan soal, pembuatan kelompok, membuat draft aturan main dalam belajar kooperatif, dan membuat rencana evaluasi pembelajaran.
Sedangkan yang termasuk dalam kegiatan pelaksanaan diantaranya, penyajian materi oleh guru, kegiatan kelompok, presentasi siswa, tes prestasi belajar, dan yang terakhir pemberian penghargaan. Kemudian penjelasan lebih lanjut dan detail masing-masing rencana kegiatan akan dijabarkan.
4.      Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Berikut ini adalah langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif, seperti yang tampak pada table dibawah ini.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif (Ibrahim M, 2000:10)

Face
Tingkah Laku Guru
Face 1
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
Face 2
Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi pada siswa dengan metode ceramah.
Face 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Face 4
Membimbing kelompok dalam bekerjasama dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Face 5
Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Face 6
Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

E.     Dasar Pemikiran
Mengacu pada laporan hasil penelitian oleh Robert Slavin ini serta mengingat bahwa dengan belajar secara kooperatif siswa dapat mengembangkan potensinya maka penelitian ini dilakukan.
Siswa yang dibentuk dalam kelompok diharapkan mampu berkomunikasi aktif dan mampu memecahkan masalah serta menguasai materi ajar yang dihadapi.
Terjadinya saling ketergantungan positif dan mampu embuat siswa bertukar piker yang pada akhirnya materi ajar dapat dengan mudah diserap tanpa merasa susah dan bosan di dalam kelas.

F.     Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori yang telah dipaparkan diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah :
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VII pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat di MTs. Nurul Huda Pakandangan Bluto Tahun Pelajaran 2007-2008.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Pada hakekatnya penelitian merupakan usaha yang dilakukan seseorang peneliti untuk memecahkan suatu permasalahan-permasalahan yang ada, agar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Dalam penelitian, metodologi penelitian merupakan salah satu factor penting karena akan menentukan berhasil atau tidaknya suatu penelitian.
Dengan metodologi  penelitian dapat diperoleh suatu petunjuk kata kerja dan cara-cara pemecahan masalah secara sistematis yang pada akhirnya akan didapat hasil yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Seorang peneliti haruslah dapat memilih metodologi yang tepat, sebab dengan penggunaan metode penelitian yang tepat akan dapat menekan seminimal mungkin kesalahan langkah yang diambil oleh peneliti.
Dalam metode penelitian ini penulis akan mengemukakakn tentang :
A.    Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel Penelitian adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian variabel penelitian dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
1.      Variabel Bebas adalah variabel yang mempengaruhi terhadap hal yang diamati (Arikunto, 2002:97). Menurut Budi Santosa (2006:33) mengatakan “Variabel bebas adalah factor yang diukur, dimanipulasi hubungannya dengan fenomena yang diamati”. Variabel Bebas dalam penelitian ini adalah Pembelajaran Koperatif Tipe STAD.
2.      Variabel Terikat adalah respon atau output, merupakan factor yang diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh variabel bebas (Budi Santosa, 2006:33). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah prestasi belajar siswa pada materi pokok bilangan bulat pada siswa kelas VII MTs. Nurul Huda Pakandangan Sumenep.



B.     Teknik Penelitian
1.      Teknik Penelitian
Dalam penelitian eksperimen, peneliti memainkan (memanipulasi) sekurang-kurangnya satu variabel bebas dan mengamati pada satu variabel terikat.
Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah metode eksperimen. Pada penelitian ini peneliti harus melakukan treatment/perlakuan pada siswa dan melakukan penukuran terhadap hasil perlakuan.
2.      Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena semua data yang diambil nantinya berupa nilai angka dari tes.

C.    Rancangan Penelitian
Dalam rancangan penelitian yang peneliti gunakan adalah test awal dan test akhir.







Pre Test
T1
 

Treatment
X
 

Post Test
T2
 
 




Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rancangan atau design penelitian pre-test and post-test group dengan pola :
T1      X         T2
T1      = Pre-test
X       = Treatment (perlakuan)
T2      = Post-test
Pre-test (T1) diberikan sebelum siswa mendapat perlakuan berupa penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Setelah mengadakan pre-test penelitian memberikan perlakukan (X) kepada siswa sebanyak tiga kali pertemuan. Setelah selesai memberikan perlakuan, peneliti memberikan post-test (T2).

D.    Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Pakandangan Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester 1 tahun pelajaran 2007/2008. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan sekitar bulan Juni dan Juli. Adapun rencana jadwal penelitian ini sebagao berikut.
No.
Kegiatan
Juni
Juli
Minggu
Minggu
I
II
III
IV
I
II
III
IV
1.
Pengambilan data pre-test







2.
Pertemuan pertama proses pembelajaran







3.
Pertemuan kedua proses pembelajaran







4.
Pertemuan ketiga proses pembelajaran







5.
Pengambilan data post-test








E.     Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Menurut Arikunto (2002:108), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa MTs. Nurul Huda Pakandangan Bluto tahun pelajaran 2007/2008.
2.      Sampel
Menurut Arikunto (2002:108). Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII MTs. Nurul Huda Pakandangan Bluto. Teknik sampling yang digunalan peneliti adalah sampel berkelompok (Cluster Sampling) dengan mangambil sapel adalah kelas VII B.

F.     Instrument Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
1.      Instrument Penelitian
Instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah )Arikunto, 2002:136).
Instrument penelitian adalah dengan pembuatan soal tes dengan pilihan ganda sebanyak 10 soal. Soal tes digunakan untuk mengetahui hasil prestasi belajar. Hal ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana perkembangan siswa yang telah diperlakukan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang ditempuh dan digunakan untuk mencari dan mengumpulkandata, keterangan, persyaratan dan sebagainya yang diatur agar sifatnya sesuai dengan apa adanya tanpa ada penafsiran dan perubahan. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik tes.
Menurut Suharsimi Arikunto “Tes sebagai instrument pengumpulan data dapat dibedakan menjadi dua yaitu : Tes buatan guru dan tes standar” (2002:198). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tes buatan guru karena peneliti bisa membuat tes dengan menggunakan prosedur yang dianggap peneliti bisa lebih efektif, dengan teknik ini peneliti akan menskor tiap-tiap jawaban pada soal tes tersebut.

G.    Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis dan desain pre-tes dan post-test. Data penelitian ini dilakukan tes sebanyak 2 kali. Sebelum diberikan pre-test dan sesudah post-test dilakukan penganalisaan. Perbedaan antara prestasi dari kedua tes tersebut dapat diasumsikan merupakan efek dari perlakuan.
Untuk mengetahui prestasi belajar siswa setelah diajar dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan melihat rata-rata nilai post-test (sesudah proses pembelajaran). Dengan criteria prestasi adalah sebagai berikut :
1.      Maksimal
Apabila semua bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
2.      Baik
apabila semua bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa 76% - 100%.
3.      Cukup
Apabila bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa antara 60% - 75%.
4.      Kurang
Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya dikuasai kurang dari 50%.

Untuk mengukur penerapan suatu treatment dapat digunakan rumus :

Keterangan :
-          Md     = Mean dari deviasi (d) antara post-test dan pre-test
-          x2d      = Jumlah kuadrat deviasi
-          N        = Banyaknya subyek
-          n – 1   = df atau db

nilai t dikonsultasikan dengan table nilai t dua ekor d.b = N-1
hipotesis diterima jika thitung > ttabel dengan taraf signifikan 5 %

Keterangan :
Md           = Mean dari deviasi (d) antara post-test dan pre-test
d               = Skor post test – skor pre test
N              = banyaknya subyek

∑x2d dapat dihitung dengan rumus :



Pengikut